
Salingka Media, Padang – Aksi lanjutan perwakilan anak kamanakan dari enam suku di Kecamatan Lubuk Kilangan kembali digelar untuk menyampaikan tuntutan yang sebelumnya disebut belum menemukan titik temu dengan Ketua KAN Lubuk Kilangan, Armansyah Datuak Gadang.
Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk penyampaian aspirasi terkait persoalan yang hingga kini masih menjadi perhatian perwakilan enam suku. Kegiatan mendapat pengamanan dari jajaran TNI dan Polri.
Sejak awal aksi, penyampaian aspirasi melalui orasi berlangsung tertib dan aman. Perwakilan enam suku secara bergantian menyampaikan pandangan serta tuntutan mereka di hadapan pihak-pihak yang berada di lokasi.
Situasi mulai berubah ketika aksi memasuki tahapan penggembokan.
Penggembokan Menjadi Titik Ketegangan
Penggembokan dilakukan oleh perwakilan enam suku yang diwakili David. Saat proses penggembokan berlangsung, Edhi Rosa masih berada di lokasi dan menyampaikan orasi menggunakan toa untuk menyuarakan aspirasi perwakilan enam suku.
Di tengah berlangsungnya orasi dan proses penggembokan tersebut, Iral kemudian datang menghampiri Edhi Rosa dan mempertanyakan keberadaannya di lokasi.
Dalam situasi tersebut, terdengar ucapan yang mempertanyakan, “Ang indak urang siko?”
Tak lama kemudian, berdasarkan informasi yang diperoleh di lokasi, Iral diduga diduga melayangkan pukulan ke arah wajah Edhi Rosa yang saat itu masih memegang toa.
Peristiwa tersebut sontak membuat suasana aksi yang sebelumnya berjalan tertib menjadi sedikit ricuh. Sejumlah orang yang berada di sekitar lokasi kemudian berupaya meredakan ketegangan.
TNI dan Polri Sigap Redam Kericuhan
Aparat TNI dan Polri yang sejak awal melakukan pengamanan langsung bergerak cepat ketika kericuhan terjadi.
Petugas segera mengambil langkah untuk memisahkan pihak-pihak yang terlibat serta menenangkan situasi. Respons cepat aparat membuat kericuhan tidak berkembang menjadi lebih besar.
Setelah kondisi kembali terkendali, proses penggembokan tetap dilanjutkan hingga selesai dengan pengawalan aparat keamanan.
Secara keseluruhan, aksi perwakilan enam suku tersebut dapat berlangsung hingga selesai dalam kondisi yang kembali aman dan kondusif.
Tuntutan Enam Suku Belum Menemukan Titik Temu
Terlepas dari insiden yang terjadi saat penggembokan, persoalan utama yang menjadi perhatian adalah tuntutan perwakilan anak kamanakan dari enam suku yang disebut belum menemukan titik temu dengan Ketua KAN Lubuk Kilangan, Armansyah Datuak Gadang.
Kondisi tersebut tentu menimbulkan sejumlah pertanyaan di tengah masyarakat. Apa sebenarnya pokok tuntutan yang disampaikan enam suku? Apa saja yang telah dibicarakan sebelumnya? Dan mengapa persoalan tersebut belum menemukan kesepakatan?
Pertanyaan itu penting untuk mendapatkan penjelasan dari pihak-pihak terkait agar masyarakat memperoleh informasi yang utuh dan tidak hanya mendengar dari satu sisi.
Apalagi, persoalan yang berkaitan dengan masyarakat adat menyentuh hubungan kekerabatan serta kepentingan banyak pihak. Karena itu, ruang dialog dan musyawarah tetap menjadi bagian penting dalam mencari jalan keluar.
Terkait insiden antara Iral dan Edhi Rosa, dugaan pemukulan yang terjadi saat proses penggembokan perlu mendapatkan klarifikasi dari pihak-pihak yang terlibat.
Keterangan Edhi Rosa, Iral, saksi yang berada di lokasi, maupun aparat keamanan akan menjadi penting untuk mengetahui secara utuh bagaimana peristiwa tersebut bermula dan apa yang sebenarnya terjadi.
Pemberitaan ini menempatkan dugaan tersebut sebagai bagian dari kronologi berdasarkan informasi yang diperoleh di lokasi. Kepastian mengenai peristiwa tersebut tetap membutuhkan keterangan dan verifikasi lebih lanjut.
Jangan Sampai Persoalan Adat Berujung Perpecahan
Di balik dinamika aksi tersebut, ada hal yang jauh lebih penting untuk dijaga, yakni persaudaraan dan ketenteraman masyarakat Lubuk Kilangan.
Perbedaan pandangan dalam sebuah persoalan adalah sesuatu yang dapat terjadi. Namun, perbedaan tersebut idealnya tidak berkembang menjadi tindakan yang dapat memicu konflik antarsesama.
Dalam adat dan kehidupan bermasyarakat, persoalan yang menyangkut anak kamanakan semestinya dapat dikembalikan kepada semangat duduk basamo, duduak samo randah, tagak samo tinggi—mencari jalan keluar melalui musyawarah dan mengedepankan kepentingan bersama.
Sebab, pada akhirnya yang perlu dicari bukan siapa yang menang dan siapa yang kalah, melainkan jalan penyelesaian yang mampu menjaga marwah, persaudaraan, dan ketenteraman masyarakat Lubuk Kilangan.





