Agam  

237 Siswa Diduga Keracunan MBG di Agam, Dapur SPPG Palupuh Ditutup Sementara

237 Siswa Diduga Keracunan MBG di Agam, Dapur SPPG Palupuh Ditutup Sementara
237 Siswa Diduga Keracunan MBG di Agam, Dapur SPPG Palupuh Ditutup Sementara – Dok. istimewa

Salingka Media, Agam – Sebanyak 237 siswa keracunan MBG di Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Para siswa mengalami sejumlah keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dari satu dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dinas Kesehatan Kabupaten Agam mencatat sebagian besar korban sudah mendapatkan penanganan medis. Hingga Rabu (2/9/2026) malam, sebanyak 235 siswa sudah pulih dan diperbolehkan pulang. Sementara dua siswa masih menjalani perawatan di rumah sakit di Kota Bukittinggi.

Kasus 237 siswa keracunan MBG mulai muncul sejak Selasa (1/9/2026). Saat itu, sebanyak 56 murid sekolah dasar mengeluhkan sakit perut secara bersamaan.

Jumlah siswa yang membutuhkan penanganan medis kemudian bertambah pada Rabu (2/9/2026). Petugas kesehatan sempat mencatat 146 siswa mendapat perawatan di Puskesmas Palupuh dan sejumlah puskesmas pembantu (pustu).

Data tersebut terus meningkat hingga mencapai 237 orang. Para siswa berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari TK, SD hingga SMP. Mereka menerima makanan dari dapur SPPG yang sama.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Agam, Hendri Rusdian, mengatakan petugas melakukan pendataan melalui Puskesmas Palupuh dan 13 pustu di wilayah tersebut.

“237 orang korban keracunan sampai Rabu sekitar pukul 18.00 WIB,” ujar Hendri.

Hendri menyebut sebagian besar korban sudah mendapatkan penanganan dan boleh kembali ke rumah. Petugas tetap memantau kondisi mereka untuk memastikan tidak muncul keluhan yang lebih berat.

Dari total 237 siswa yang mengalami keluhan kesehatan, 235 orang sudah pulang setelah mendapat penanganan. Dua siswa lainnya masih membutuhkan perawatan lanjutan di dua rumah sakit di Bukittinggi.

  • Satu siswa menjalani perawatan di RSUD Kota Bukittinggi.
  • Satu siswa lainnya mendapat perawatan di Rumah Sakit TNI AD TK IV Bukittinggi.
  • Kondisi kedua siswa tersebut terus membaik hingga Rabu malam.
  • Petugas kesehatan tetap memantau kondisi seluruh korban.

Hendri mengatakan petugas masih mengikuti perkembangan kondisi para korban. Pemerintah daerah juga mengantisipasi kemungkinan munculnya laporan baru dari warga yang mengalami keluhan setelah mengonsumsi makanan MBG.

“Kita masih pantau terus perkembangannya. Mudah-mudahan tidak ada hal luar biasa dan semua bisa pulih sepenuhnya,” kata Hendri.

Kasus ini juga membuat sejumlah keluarga khawatir. Salah seorang warga Jorong Mudiak Palupuh, Nagari Koto Rantang, Wini, mengatakan tiga anaknya mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan MBG.

Baca Juga :  Puluhan Rumah dan Satu Sekolah di Agam Terendam Banjir Akibat Hujan Deras

Wini menyebut setiap anak mengalami keluhan yang berbeda. Beberapa gejala yang muncul antara lain diare, pusing, muntah dan demam.

Anak bungsunya yang berusia 3,5 tahun mengalami demam, muntah dan diare. Wini kemudian membawa anak tersebut untuk mendapatkan pertolongan medis.

“Anak balita saya umur 3,5 tahun badannya panas, muntah, dan mencret,” ujar Wini.

Menurut Wini, ketiga anaknya menghabiskan makanan yang mereka terima. Ia juga tidak mencium aroma aneh maupun merasakan perubahan rasa ketika anak-anaknya menyantap makanan tersebut.

Menu yang dikonsumsi terdiri dari nasi, telur puyuh, tahu, sayuran, buah dan kuah gulai. Sayuran tersebut antara lain timun, tomat dan selada.

Pemerintah daerah mengambil langkah dengan menghentikan sementara operasional dapur SPPG yang menyediakan makanan MBG bagi para siswa tersebut.

Dapur SPPG milik Yayasan Affa Adicitta mendapat instruksi penghentian operasional setelah Wakil Bupati Agam H.M. Iqbal mendatangi lokasi kejadian.

Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi juga meminta pengelola menghentikan operasional dapur untuk sementara. Pemerintah meminta petugas mengamankan dapur sebelum pemeriksaan lebih lanjut.

“Dapurnya ditutup, diamankan dulu, kemudian diperiksa,” tegas Mahyeldi.

Mahyeldi meminta pemeriksaan mencari titik persoalan dalam proses penyediaan makanan. Ia juga mendorong pengelola dapur memperkuat koordinasi dengan instansi kesehatan agar pengawasan terhadap penyediaan makanan berjalan lebih baik.

Petugas dari Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Agam kini memeriksa sejumlah sampel makanan yang dikonsumsi para siswa.

Pemeriksaan tersebut bertujuan mencari penyebab munculnya keluhan kesehatan secara bersamaan. Pemerintah daerah menunggu hasil pemeriksaan laboratorium sebelum menentukan langkah berikutnya.

Operasional dapur SPPG akan kembali berjalan setelah pemerintah mendapatkan hasil pemeriksaan dan melakukan evaluasi terhadap penyediaan makanan.

Kepala SPPG Palupuh, Wahyu Saputra, mengatakan pihaknya tidak mengetahui adanya gangguan kesehatan saat petugas membagikan makanan kepada siswa.

Baca Juga :  Rumah Gadang Hangus Terbakar di Nagari Ampang Gadang, Agam

Menurut Wahyu, pihak SPPG baru menerima informasi mengenai keluhan siswa pada Rabu. Pengelola kemudian berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional dan menunggu hasil pemeriksaan sampel makanan.

“Kami juga kaget dengan kejadian hari ini,” ujar Wahyu.

Hingga kini, Dinas Kesehatan dan kepolisian masih mengumpulkan informasi terkait kejadian tersebut. Petugas juga menelusuri makanan dan proses penyediaannya untuk mengetahui sumber masalah.

Kejadian 237 siswa keracunan MBG menjadi perhatian karena makanan tersebut menyasar siswa dari sekitar 20 sekolah tingkat TK, SD dan SMP di Kecamatan Palupuh.

Kasus ini membuat pemerintah perlu memastikan proses penyediaan makanan dalam program MBG memenuhi standar keamanan pangan. Hasil pemeriksaan BPOM nantinya dapat menjadi dasar evaluasi terhadap dapur SPPG dan pelaksanaan program MBG di wilayah tersebut.

Untuk sementara, pemerintah terus memantau kondisi para siswa. Masyarakat juga menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui penyebab pasti munculnya keluhan kesehatan pada ratusan siswa.

  • Total korban: 237 siswa.
  • Korban yang sudah pulih: 235 orang.
  • Korban yang masih dirawat: 2 orang.
  • Lokasi perawatan lanjutan: dua rumah sakit di Bukittinggi.
  • Jenjang pendidikan: TK, SD dan SMP.
  • Sumber makanan: satu dapur SPPG MBG.
  • Status dapur: ditutup sementara.
  • Pemeriksaan: BPOM dan Dinas Kesehatan Agam memeriksa sampel makanan.
  • Penyebab kejadian: masih dalam penyelidikan.

Pemerintah daerah kini menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab kejadian. Petugas juga tetap memantau kondisi para korban dan mengantisipasi laporan tambahan dari masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *