Kabut Asap Sumbar Makin Mengkhawatirkan, AQI Padang Tembus 215 dan ISPA Bertambah 600 Kasus

Kabut Asap Sumbar Makin Mengkhawatirkan, AQI Padang Tembus 215 dan ISPA Bertambah 600 Kasus
Foto : Hasil tangkapan layar pada situs iqair.com – Kualitas udara di Padang

Salingka Media – Kabut asap Sumbar kembali menjadi perhatian setelah kualitas udara Kota Padang menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Data pemantauan yang Anda lampirkan mencatat AQI Padang mencapai 215 atau masuk kategori sangat tidak sehat, dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 139,5 µg/m³. Di tengah kondisi tersebut, Dinas Kesehatan Kota Padang juga mencatat tambahan sekitar 600 kasus ISPA.

Pemerintah Provinsi Sumatera Barat kini memperkuat pemantauan kualitas udara dan mengevaluasi langkah antisipasi. Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah juga meminta pemerintah provinsi tetangga meningkatkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang diduga menjadi sumber asap yang masuk ke wilayah Sumbar.

Kabut Asap Sumbar Dipengaruhi Karhutla Provinsi Tetangga

Mahyeldi mengatakan penanganan karhutla membutuhkan koordinasi lintas daerah. Menurutnya, pemerintah daerah di wilayah yang memiliki titik api perlu mengambil langkah maksimal agar asap tidak mengganggu daerah lain.

“Kita berharap koordinasi dan sinergi antar seluruh pihak terkait terus diperkuat dalam penanganan karhutla. Ini penting agar dampaknya terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat dapat kita minimalisir,” ujar Mahyeldi di Padang, Jumat (4/9/2026).

Pemprov Sumbar menduga asap yang menyelimuti sejumlah wilayah berasal dari karhutla di provinsi tetangga. Namun, pergerakan asap tetap bergantung pada arah dan kecepatan angin, kondisi atmosfer, serta dinamika cuaca.

Mahyeldi meminta pemerintah daerah asal titik api meningkatkan penanganan. Ia menilai langkah tersebut penting untuk mencegah asap meluas dan mengganggu aktivitas masyarakat.

Ribuan Hotspot Terdeteksi di Sekitar Sumbar

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumbar Kuartini Deti Putri menyampaikan hasil pemantauan periode 1 hingga 3 September 2026 sampai pukul 14.00 WIB. Petugas mencatat 19 hotspot di wilayah Sumbar.

Titik panas tersebut tersebar di lima kabupaten dengan rincian:

  • Dharmasraya: 5 hotspot
  • Limapuluh Kota: 1 hotspot
  • Pasaman: 3 hotspot
  • Pesisir Selatan: 5 hotspot
  • Sijunjung: 5 hotspot

Data SIPONGI untuk periode yang sama juga mencatat hotspot dalam jumlah besar di sejumlah provinsi tetangga. Data tersebut menunjukkan:

  • Jambi: 301 hotspot
  • Riau: 229 hotspot
  • Bengkulu: 13 hotspot
  • Sumatera Utara: 46 hotspot
  • Sumatera Selatan: 2.422 hotspot

Keberadaan hotspot dalam jumlah besar di wilayah sekitar menjadi perhatian karena asap karhutla dapat bergerak menuju daerah lain. Kondisi angin dan atmosfer menentukan seberapa jauh asap dapat bergerak dan memengaruhi kualitas udara Sumbar.

AQI Padang Tembus 215

Foto : Hasil tangkapan layar pada situs https://www.iqair.com/id/air-quality-map

Data kualitas udara yang Anda lampirkan menunjukkan kondisi berbeda dari hasil pemantauan AQMS Pemprov Sumbar yang juga tercatat dalam bahan berita. Data tersebut mencatat indeks kualitas udara atau AQI Kota Padang mencapai 215 US AQI pada waktu pemantauan.

Data tersebut menempatkan kualitas udara pada kategori sangat tidak sehat. PM2.5 menjadi polutan utama dengan konsentrasi mencapai 139,5 µg/m³.

Data pemantauan tersebut juga menyebut konsentrasi PM2.5 mencapai sekitar 27,9 kali nilai panduan tahunan WHO. Selain PM2.5, pemantauan mencatat sejumlah polutan lain.

  • PM2.5: 139,5 µg/m³
  • PM10: 151 µg/m³
  • O₃: 49,9 µg/m³
  • NO₂: 7,6 µg/m³
  • SO₂: 20,2 µg/m³

Data tersebut bersumber dari satu stasiun pemantauan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Indonesia, sesuai bahan informasi yang diterima.

Baca Juga :  Padang Dilanda Karhutla: Tiga Hektar Lahan di Perbukitan Balai Gadang Hangus Terbakar

Pemantauan AQMS Pemprov Sumbar Catat PM2.5

Sementara itu, hasil pemantauan Stasiun Air Quality Monitoring System (AQMS) Padang Pasir di kawasan Kantor Gubernur Sumbar untuk periode yang tercantum dalam bahan berita menunjukkan PM2.5 sebagai parameter dominan.

Pemantauan tersebut mencatat konsentrasi rata-rata PM2.5 sebesar 19,88 µg/m³ dengan nilai maksimum 21,71 µg/m³. Berdasarkan indikator ISPU PM2.5, angkanya berada pada rentang 55,9 hingga 58,4 atau kategori sedang.

Perbedaan angka dengan data AQI 215 perlu menjadi perhatian pembaca karena kedua data menggunakan sistem indeks dan waktu pemantauan yang dapat berbeda. Artikel ini tidak menyamakan kedua hasil pengukuran tersebut sebagai satu angka yang sama.

Kasus ISPA di Padang Bertambah 600

Dinas Kesehatan Kota Padang mencatat sekitar 600 tambahan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA pada periode 24 Agustus hingga 2 September 2026.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang Srikurnia Yati mengatakan pihaknya mengumpulkan data tersebut dari sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk puskesmas dan klinik.

Pada periode 17 hingga 23 Agustus 2026, Dinkes Padang mencatat sekitar 4.700 kasus ISPA. Jumlah tersebut kemudian bertambah sekitar 600 kasus pada periode berikutnya.

“Kalau kita lihat dari minggu sebelum adanya penurunan kualitas udara ini, ada kenaikan kasus ISPA yang kita data dari fasyankes, dari klinik maupun dari puskesmas,” kata Srikurnia, Kamis (3/9/2026).

Srikurnia menjelaskan ISPA tetap dapat muncul dalam kondisi normal. Namun, Dinkes Padang memberi perhatian terhadap kenaikan kasus yang terjadi bersamaan dengan penurunan kualitas udara.

Pemprov Sumbar Evaluasi Ketebalan Asap

Mahyeldi meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar mengevaluasi kondisi udara dan mengukur tingkat ketebalan asap di sejumlah wilayah.

Langkah tersebut muncul setelah beberapa daerah, termasuk Dharmasraya dan Sijunjung, mengambil kebijakan merumahkan siswa untuk mengurangi risiko paparan kabut asap.

Pemprov Sumbar meminta bupati dan wali kota aktif mengevaluasi kondisi wilayah masing-masing. Pemerintah daerah dapat menyesuaikan langkah penanganan berdasarkan hasil pemantauan udara dan dampaknya terhadap aktivitas masyarakat.

WFH untuk ASN Masih Dikaji

Pemprov Sumbar juga mempertimbangkan berbagai langkah untuk mengantisipasi dampak kabut asap. Salah satu opsi yang muncul yaitu penerapan Work From Home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN).

Namun, Pemprov Sumbar belum menetapkan kebijakan WFH khusus akibat kabut asap. Mahyeldi mengatakan pemerintah akan melihat perkembangan kondisi udara sebelum mengambil keputusan.

“Nanti akan kita lihat. Mudah-mudahan tidak terjadi,” kata Mahyeldi.

Prakiraan Kualitas Udara Padang

Data tambahan yang Anda lampirkan juga menunjukkan perubahan kualitas udara dari sore hingga pagi hari. AQI tercatat mencapai puncak 215 sekitar pukul 15.00 WIB dan kemudian diprakirakan turun secara perlahan pada malam hari.

Prakiraan tersebut memperkirakan kualitas udara bergerak menuju kategori tidak sehat pada pertengahan malam. Kondisi kemudian diperkirakan membaik hingga masuk kategori tidak sehat bagi kelompok rentan dan sedang menjelang pagi.

Untuk beberapa hari berikutnya, data tersebut memperkirakan kualitas udara harian berada pada kategori tidak sehat bagi kelompok rentan dengan AQI sekitar 104 hingga 146. Kondisi diprakirakan membaik menuju kategori sedang pada pertengahan pekan berikutnya.

Baca Juga :  Remaja Curi Ponsel Jamaah Tertidur di Masjid Taqwa, Aksi Terekam CCTV

Prakiraan kualitas udara dapat berubah mengikuti kondisi cuaca, arah angin, kelembapan, serta pergerakan asap dari sumber karhutla.

Warga Diminta Batasi Aktivitas di Luar Ruangan

Pemerintah mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan ketika kualitas udara memburuk. Masyarakat perlu membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika udara mengandung konsentrasi polutan yang tinggi.

Mahyeldi juga memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan masyarakat yang memiliki risiko gangguan pernapasan.

Dinkes Kota Padang turut mengimbau sekolah dan tempat kerja menyesuaikan kegiatan luar ruangan dengan kondisi kualitas udara.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan masyarakat antara lain:

  • Menghindari olahraga dan aktivitas berat di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.
  • Menggunakan masker saat harus keluar rumah.
  • Menutup jendela dan pintu untuk mengurangi masuknya udara luar yang tercemar.
  • Menggunakan air purifier di dalam ruangan jika tersedia.
  • Memantau informasi kualitas udara melalui kanal resmi pemerintah.
  • Segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami keluhan pernapasan.
  • Menghindari pembakaran sampah dan lahan.
  • Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan.
  • Memperbanyak konsumsi air putih dan makanan bergizi.

Konteks dan Dampak Kabut Asap bagi Masyarakat

Kabut asap Sumbar dapat memengaruhi aktivitas masyarakat apabila kualitas udara terus memburuk. Sekolah, tempat kerja, kegiatan olahraga, serta aktivitas masyarakat di luar ruangan perlu menyesuaikan kondisi udara.

Peningkatan sekitar 600 kasus ISPA di Padang juga membuat pemerintah meningkatkan kewaspadaan. Meski data tersebut tidak secara otomatis membuktikan seluruh kasus terjadi akibat kabut asap, kenaikan kasus yang bersamaan dengan penurunan kualitas udara menjadi perhatian Dinkes Kota Padang.

Masyarakat juga memiliki peran dalam menjaga kualitas udara. Warga dapat membantu dengan tidak membakar sampah maupun membuka lahan menggunakan api, sehingga tidak menambah sumber asap baru.

Pemko Padang Siapkan Surat Edaran

Pemerintah Kota Padang melalui Dinas Kesehatan menyiapkan surat edaran wali kota terkait kewaspadaan terhadap penurunan kualitas udara.

Surat tersebut menyasar organisasi perangkat daerah, instansi pemerintah, pihak swasta, BUMN, BUMD, sekolah, serta masyarakat. Pemerintah juga mendorong seluruh pihak memantau kondisi udara secara berkala.

Selain itu, Dinas Kehutanan Sumbar terus memantau potensi titik api di wilayah Sumbar. Pemerintah berharap petugas dapat segera menangani setiap potensi karhutla agar api tidak berkembang dan menambah sumber asap.

Dengan kondisi kabut asap Sumbar yang masih menjadi perhatian, masyarakat perlu mengikuti perkembangan kualitas udara dari sumber resmi dan menyesuaikan aktivitas berdasarkan kondisi di wilayah masing-masing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *