Pelesiran Berkedok Pendidikan, Study Tour Yang Menyimpang

Study tour, yang seharusnya menjadi kesempatan emas bagi para pelajar untuk belajar di luar kelas, sering kali hanya menjadi ajang rekreasi bagi sekelompok oknum

Pelesiran Berkedok Pendidikan, Study Tour Yang Menyimpang
Pelesiran Berkedok Pendidikan, Study Tour Yang Menyimpang(ilustrasi photo sebuah bus)

Salingka Media – Study tour, yang seharusnya menjadi kesempatan emas bagi para pelajar untuk belajar di luar kelas, sering kali hanya menjadi ajang rekreasi bagi sekelompok oknum.

Alih-alih memanfaatkan momen tersebut untuk memperdalam pengetahuan dan pengalaman, beberapa pihak lebih fokus pada kesenangan dan hiburan semata.

Salah satu narasumber dari salah satu wali murid yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan “Fenomena ini tidak hanya merugikan siswa, tetapi juga menghambat tujuan utama dari kegiatan edukatif tersebut”

  • Tujuan Mulia di Balik Study Tour

Pada dasarnya, study tour dirancang untuk menggabungkan unsur pendidikan dan rekreasi.

Siswa diajak mengunjungi tempat-tempat bersejarah, museum, institusi pendidikan tinggi, dan lokasi-lokasi lain yang memiliki nilai edukatif tinggi.

Selain itu, mereka juga diberi kesempatan untuk melihat langsung aplikasi dari teori-teori yang telah dipelajari di kelas, sehingga dapat meningkatkan pemahaman dan apresiasi mereka terhadap materi tersebut.

— Penyimpangan dari Tujuan Awal

“Sayangnya, tidak semua study tour dijalankan sesuai dengan tujuan mulia ini. Dalam beberapa kasus, penyelenggara atau oknum tertentu lebih fokus pada aspek rekreasional daripada edukasional. Rute perjalanan lebih banyak dihabiskan di tempat-tempat wisata populer yang menawarkan hiburan semata, seperti pantai, taman hiburan, atau pusat perbelanjaan. Akibatnya, siswa kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pengalaman belajar yang berharga.” ujar salah satu wali murid yang eggan disebutkan namanya

— Motivasi di Balik Fenomena Ini

Menurutnya, ada beberapa faktor yang mendorong terjadinya penyimpangan ini.

Pertama, ada tekanan dari siswa itu sendiri yang lebih menginginkan perjalanan yang santai dan menyenangkan.

Kedua, ada juga tekanan dari orang tua yang berharap anak-anak mereka mendapatkan liburan yang menyenangkan.

Ketiga, dalam beberapa kasus, oknum penyelenggara memanfaatkan anggaran yang ada untuk keuntungan pribadi, memilih destinasi yang lebih menarik secara komersial daripada edukasional.

Padahal anggaran untuk kegiatan tersebut selalu dibebankan kepada siswa tanpa pandang bulu, baik itu ikut serta maupun tidak. Sering juga disertai dengan bahasa ancaman, padahal ada yang namanya uang Komite yang dipungut dari setiap siswa setiap bulannya. Seharusnya uang komite bisa menjadi solusi untuk anggaran kegiatan tersebut yang mana dapat meringankan beban siswa. Sebab, tidak semua siswa yang orang tuanya mempunyai keuangan yang baik.”ujarnya

— Dampak Negatif bagi Siswa

Dampak dari penyimpangan ini sangat signifikan.

“Siswa tidak mendapatkan nilai tambah dari segi pendidikan dan hanya menghabiskan waktu untuk bersenang-senang. Hal ini tidak hanya merugikan siswa secara individu, tetapi juga menciptakan preseden buruk bagi pelaksanaan study tour di masa depan.”

Kepercayaan terhadap program semacam ini bisa menurun, dan potensi manfaat edukatifnya pun terabaikan. Kalau sudah seperti ini.., siapa yang diuntungkan..?” kata salah satu wali murid yang tidak ingin disebutkan namanya.

Tinggalkan Balasan