Membuat Tanaman Cabai Tetap Subur, Mengatasi Tantangan Penyakit Antraknosa

Membuat Tanaman Cabai Tetap Subur, Mengatasi Tantangan Penyakit Antraknosa
Membuat Tanaman Cabai Tetap Subur, Mengatasi Tantangan Penyakit Antraknosa

Salingka Media, Pertanian – Membuat Tanaman Cabai Tetap Subur, Mengatasi Tantangan Penyakit Antraknosa/Patek.

Dalam dunia pertanian, tanaman cabai yang subur dan produktif adalah impian setiap petani.

Namun, tantangan selalu mengintai, terutama dalam menghadapi musim yang berubah-ubah.

Salah satu musuh utama adalah penyakit antraknosa, yang dapat menyebabkan kerugian besar baik secara ekonomi maupun hasil panen.

Antraknosa, disebabkan oleh jamur Colletotricum capsici dan jamur Gloeosporium sp., adalah ancaman utama bagi tanaman cabai di daerah tropis dan subtropis.

Biasanya menyerang bagian tengah buah cabai yang telah matang, jamur ini dapat bertahan hidup di tanah dan sisa-sisa tanaman terinfeksi.

Gejala serangan penyakit ini termasuk munculnya bercak hitam melingkar atau coklat busuk pada kulit cabai, serta bercak bundar yang berkembang pada buah yang belum matang.

Tanaman yang terinfeksi bisa mengalami penurunan hasil panen hingga 50-90% pada musim hujan, karena jamur penyebabnya berkembang subur di lingkungan yang lembap dengan suhu tinggi.

Pengobatan menjadi kunci dalam memerangi penyakit ini.

Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan air cucian beras yang telah difermentasi selama 5 hari, dicampur dengan agen hayati Anfus atau GlioThrico G, dan gula merah.

Larutan ini kemudian disiramkan ke tanah di sekitar akar tanaman cabai.

Selain itu, penggunaan kapur dolomit juga dapat membantu mengurangi risiko serangan penyakit ini.

Taburkan kapur dolomit setiap lobang tanam, termasuk yang telah ditanami tanaman cabai, minimal 2 sendok makan per lobang.

Untuk pengobatan dari atas, disarankan untuk menyemprotkan fungisida kontak seperti Mancozeb dan Klorotalonil setiap 4 hari sekali.

Meskipun ada pertanyaan mengenai penggunaan fungisida sistemik, tetapi penggunaan fungisida kontak lebih disukai karena tidak menyebabkan resistensi.

Resistensi terhadap fungisida sistemik dapat membuat pengendalian penyakit menjadi sulit di masa tanam berikutnya.

Dengan strategi pengobatan yang tepat, petani cabai dapat mengurangi risiko serangan penyakit antraknosa dan memastikan tanaman cabai tetap subur dan produktif.

Semoga bermanfaat 🙏

Baca juga : Pupuk Organik STU PLUS Tunjang Program Penangkaran Bibit Unggul Dan Program MPIG-BS

Tinggalkan Balasan