
Salingka Media – Di tengah lorong-lorong padat Grand Bazaar, Teheran, Iran, berdiri sebuah toko kecil yang tak pernah kehilangan pesonanya sejak puluhan tahun lalu. Bukan toko perhiasan atau karpet Persia yang terkenal mahal, melainkan sebuah toko pensil warna yang menjadi tujuan para seniman, ilustrator, dan pecinta seni dari berbagai penjuru dunia. Tempat itu dikenal sebagai toko pensil Medad Raffy Teheran, sebuah ruang sederhana yang menyimpan ribuan warna dan kisah dedikasi yang jarang ditemui.
Toko ini dimiliki oleh Mohammad Rafieh, sosok yang telah mengabdikan hampir seluruh hidupnya pada dunia warna. Sejak kecil, Rafieh sudah jatuh cinta pada menggambar dan permainan warna. Ketertarikannya itu membawanya bekerja di sebuah perusahaan pembuat pensil warna, tempat ia mulai memahami bahwa setiap gradasi memiliki karakter dan makna tersendiri.
Dalam sebuah wawancara, Rafieh pernah mengungkapkan pemikirannya yang sederhana namun dalam. Ia membayangkan betapa indahnya dunia jika setiap warna yang terlintas di imajinasi manusia bisa diwujudkan. Dari sanalah tekadnya tumbuh—menciptakan tempat di mana siapa pun dapat menemukan pensil warna yang paling mendekati imajinasi mereka. “Saya bekerja keras dengan cinta dan semangat,” ujarnya suatu ketika, menggambarkan perjalanan panjang yang ia tempuh.
Sekitar tahun 1990, Rafieh membuka Medad Raffy. Sejak hari pertama, ia memutuskan untuk hanya menjual pensil warna. Keputusan yang mungkin terdengar berisiko, namun justru menjadi kekuatan utamanya. Selama lebih dari 30 tahun, Rafieh menghabiskan hari-harinya di balik etalase kecil, menghafal ribuan jenis pensil—mulai dari warna, merek, hingga letaknya—tanpa catatan, tanpa sistem digital.
Keunikan toko pensil Medad Raffy Teheran bukan hanya pada koleksi warnanya, tetapi juga pada hubungan emosional yang terjalin dengan para pengunjung. Rafieh percaya bahwa sebuah pensil bukan sekadar alat gambar, melainkan penjaga semangat. Ia sering mengatakan bahwa banyak anak kehilangan minat menggambar hanya karena satu pensil favorit mereka hilang. Dengan memberikan pensil pengganti yang sama persis, ia merasa seperti mengembalikan dunia kecil yang hampir runtuh.
Baginya, senyuman anak-anak dan mata berbinar orang dewasa saat menemukan warna yang mereka cari adalah harta paling berharga. Ia melihat dirinya bukan sebagai pedagang, melainkan penjaga dunia warna-warni agar tetap hidup.
Salah satu kisah yang paling membekas terjadi ketika seorang pria rutin membeli pensil warna murah setiap minggu. Ketika ditanya alasannya, pria itu menjawab dengan jujur bahwa ia tidak mampu menyekolahkan anaknya ke kelas melukis. Sebagai gantinya, ia membeli pensil warna dari toko Rafieh agar sang anak tetap bisa belajar menggambar di rumah. Ia yakin putranya, yang mewarisi bakat seni dari ibunya, kelak akan menjadi pelukis hebat.
Pria itu bahkan melukis wajah Rafieh hanya dalam waktu kurang dari satu menit menggunakan pensil hitam sederhana. Momen tersebut membuat Rafieh terdiam. Ia lalu berjanji untuk terus menyediakan pensil warna demi mendukung bakat seni anak-anak. “Melukis adalah seni yang harus diakui dan dikembangkan oleh orang lain,” katanya dengan penuh keyakinan.
Hari ini, Medad Raffy bukan sekadar toko, melainkan simbol dedikasi, ketekunan, dan cinta tanpa syarat terhadap seni. Di era digital yang serba cepat, toko pensil Medad Raffy Teheran berdiri sebagai pengingat bahwa warna, imajinasi, dan sentuhan manusia tetap memiliki tempat yang tak tergantikan.





