Global  

Krisis Kemanusiaan di Rafah: Serangan Israel Mengguncang Kamp Pengungsi

Krisis Kemanusiaan di Rafah: Serangan Israel Mengguncang Kamp Pengungsi
Foto: Api berkobar menyusul serangan Israel di wilayah yang diperuntukkan bagi pengungsi Palestina, di tengah konflik yang sedang berlangsung antara Israel dan Hamas, di Rafah di Jalur Gaza selatan, dalam gambar diam yang diambil dari sebuah video, 26 Mei 2024. (REUTERS/Reuters TV)

Salingka Media – Pada 24 Mei 2024, Israel melakukan serangan udara ke tenda-tenda pengungsi di Rafah, wilayah selatan Jalur Gaza. Serangan ini menewaskan sedikitnya 11 orang, termasuk perempuan dan anak-anak, serta melukai puluhan lainnya. Serangan ini terjadi setelah kegagalan perundingan gencatan senjata di Qatar yang bertujuan untuk mengurangi ketegangan di wilayah tersebut  

Konflik antara Israel dan kelompok militan Palestina, Hamas, telah memanas sejak Oktober 2023, yang menyebabkan lebih dari 1,4 juta warga Palestina mengungsi mencari perlindungan di Rafah. Israel meningkatkan serangan ke Gaza sebagai respons terhadap serangan roket dari Hamas yang menargetkan wilayah Israel

Serangan pada 24 Mei dimulai pada pagi hari ketika tank-tank Israel (IDF) dan pesawat tempur mereka membombardir tenda-tenda pengungsi di Rafah. Video dari tempat kejadian menunjukkan tank-tank IDF menembakkan rudal ke arah tenda-tenda, mengakibatkan ledakan besar dan kebakaran yang meluas.

Selain itu, serangan udara Israel juga menghantam beberapa rumah di lingkungan Tal as-Sultan, menewaskan empat orang dan melukai enam belas lainnya.

Serangan ini memperburuk kondisi kemanusiaan di Gaza, di mana fasilitas penampungan telah melebihi kapasitas dan persediaan makanan serta air semakin menipis. PBB dan organisasi kemanusiaan internasional telah menyuarakan keprihatinan mereka atas situasi ini, memperingatkan tentang meningkatnya risiko kelaparan dan penyakit di kalangan pengungsi. ❞ 

WHO menyatakan serangan ini sebagai pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional dan mendesak agar semua pihak menghentikan kekerasan dan melindungi warga sipil. PBB juga telah memperingatkan bahwa fasilitas kesehatan di Gaza terancam kolaps karena meningkatnya jumlah korban dan kurangnya sumber daya medis

Serangan ini memicu kecaman dari berbagai negara dan organisasi internasional. Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, mengutuk serangan tersebut dan menyerukan agar segera diadakan gencatan senjata untuk mencegah jatuhnya lebih banyak korban sipil. ❞ 

Di sisi lain, pemerintah Israel menyatakan bahwa serangan ini ditujukan untuk menghancurkan infrastruktur militer Hamas yang diduga bersembunyi di antara warga sipil, sebuah klaim yang sering dibantah oleh kelompok-kelompok hak asasi manusia internasional yang menuduh Israel melakukan tindakan tidak proporsional dan melanggar hukum perang ❞ 

Serangan Israel terhadap tenda-tenda pengungsi di Rafah pada 24 Mei 2024 telah menambah daftar panjang korban sipil dalam konflik yang terus berlangsung di Gaza. Kondisi kemanusiaan yang semakin memburuk memerlukan perhatian dan aksi segera dari komunitas internasional untuk mengakhiri kekerasan dan menyediakan bantuan bagi mereka yang terdampak.

Berbagai negara dan organisasi internasional telah menyatakan keprihatinan mereka mengenai situasi di Rafah setelah serangan Israel pada 24 Mei 2024. Berikut adalah beberapa reaksi dari berbagai negara dan entitas internasional tentang kondisi di Rafah hingga 28 Mei 2024:

Afrika Selatan
Afrika Selatan telah meminta Mahkamah Internasional untuk segera menghentikan operasi militer Israel di Rafah. Pemerintah Afrika Selatan menuduh Israel melakukan tindakan genosida terhadap rakyat Palestina dan menuntut agar pengadilan internasional menginstruksikan Israel untuk membuka akses bagi pekerja bantuan internasional dan jurnalis.

Jerman
Jerman mengeluarkan peringatan keras terhadap operasi militer di Rafah, dengan menyatakan bahwa tindakan tersebut dapat memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah parah di Gaza. Pemerintah Jerman menegaskan pentingnya menghentikan serangan untuk mencegah bencana kemanusiaan lebih lanjut.

Dewan Keamanan PBB
Dewan Keamanan PBB mengadopsi Resolusi 2728 yang menyerukan gencatan senjata segera selama bulan Ramadan dan memperingatkan bahwa operasi besar-besaran di Rafah akan memiliki dampak yang sangat buruk bagi penduduk sipil dan operasi kemanusiaan di Gaza. Resolusi ini didukung oleh 14 negara anggota, sementara Amerika Serikat abstain.

Inggris
Inggris menekankan pentingnya jeda kemanusiaan yang dapat mengarah pada gencatan senjata yang berkelanjutan. Inggris menyerukan pembentukan pemerintahan Palestina baru yang dapat mengawasi Tepi Barat dan Gaza, serta penghentian kapasitas Hamas untuk melancarkan serangan terhadap Israel.

Tiongkok dan Rusia
Tiongkok dan Rusia menyatakan dukungan kuat mereka untuk resolusi Dewan Keamanan yang menyerukan gencatan senjata segera. Mereka mengkritik tindakan Israel yang dianggap sebagai operasi yang tidak manusiawi terhadap warga Palestina dan menekankan pentingnya mencapai gencatan senjata permanen.

Yaman
Yaman, mewakili kelompok Arab, menekankan bahwa resolusi Dewan Keamanan merupakan langkah awal menuju gencatan senjata yang mengikat dan menyerukan penghentian segera perang di Gaza tanpa prasyarat. Mereka juga memperingatkan bahwa operasi darat di Rafah akan menyebabkan bencana kemanusiaan yang tidak dapat diterima.

Tinggalkan Balasan