
Salingka Media – Bekerja di dunia media online membuat saya akrab dengan layar digital. Sebagai salah satu redaktur di salingkamedia.com, hampir setiap hari saya memantau berita yang sudah terbit, mengedit naskah, memastikan judul sesuai kaidah SEO, hingga memeriksa detail kecil yang sering luput dari perhatian.
Saya Hafiz, dan seperti banyak pekerja digital lainnya, saya pernah menganggap mata sepet, perih, dan lelah sebagai bagian wajar dari rutinitas kerja.
Padahal, belakangan saya baru memahami bahwa kondisi tersebut bukan sekadar kelelahan biasa. Ia bisa menjadi tanda mata kering, masalah kesehatan mata yang sering hadir diam-diam, namun berdampak nyata pada produktivitas.
Data menunjukkan bahwa 41 persen masyarakat mengalami mata kering, atau sekitar 4 dari 10 orang. Ironisnya, sekitar 20 persen di antaranya tidak menyadari bahwa mereka mengalami kondisi tersebut.
Angka ini menjadi gambaran nyata betapa rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mata, terutama di era digital. Tak sedikit orang yang mengeluhkan mata tidak nyaman, namun salah mengambil langkah.
Sebagian menggunakan tetes mata yang keliru, yakni tetes mata untuk iritasi atau mata merah, bukan untuk mata kering. Sebagian lainnya justru memilih tidak melakukan apa pun, membiarkan keluhan berulang tanpa penanganan yang tepat.
Bahkan, mereka yang sudah sadar pun masih ada yang salah memilih solusi atau menunda tindakan.
Istilah SePeLe singkatan dari sepet, perih, dan lelah terkesan ringan. Namun justru di situlah persoalannya. Gejala ini kerap disepelekan, padahal menjadi sinyal awal mata kering.
Paparan layar digital terlalu lama, ruangan ber-AC, kebiasaan jarang berkedip, hingga polusi udara menjadi faktor yang mempercepat munculnya keluhan tersebut. Jika dibiarkan, mata kering dapat berkembang ke tingkat yang lebih berat dan mengganggu kualitas hidup.
Melihat kondisi ini, INSTO dari Combiphar meluncurkan kampanye “Bebas Mata SePeLe” sebagai upaya meningkatkan literasi masyarakat tentang mata kering.

“Sebagai pemimpin pasar kategori tetes mata yang telah dipercaya lebih dari 50 tahun di Indonesia, INSTO memiliki komitmen besar terhadap kesehatan mata masyarakat,” ujar Weitarsa Hendarto, Direktur PT Combiphar.
Ia menegaskan, rendahnya kesadaran masyarakat terhadap mata kering menjadi alasan utama kampanye ini digulirkan, agar masyarakat mengenali gejalanya lebih dini dan mengambil langkah yang tepat.
Hal serupa disampaikan Farah Feddia, GM Eye Care Combiphar. Menurutnya, hasil survei menunjukkan bahwa 4 dari 10 orang mengalami mata kering, namun separuhnya tidak menyadari kondisi tersebut.
“Fakta ini menegaskan pentingnya edukasi yang lebih luas agar masyarakat tidak salah menangani mata kering,” jelasnya.
Dokter Spesialis Mata dari JEC Eye Hospitals and Clinics, Dr. Eka Octaviani Budiningtyas, SpM, menyebut pasien mata kering kerap datang saat kondisinya sudah cukup berat.
“Sebagian besar pasien sebenarnya sudah mengalami gejala awal sejak lama, seperti mata sepet, perih, dan lelah, tetapi tidak disadari,” ungkapnya.
Penanganan mata kering, lanjut Dr. Eka, harus disesuaikan dengan penyebab dan tingkat keparahan. Mulai dari perubahan kebiasaan, kompres hangat, latihan berkedip, hingga penggunaan artificial tears sebagai pengganti air mata alami.
Dalam kampanye ini, INSTO Dry Eyes diperkenalkan sebagai solusi untuk membantu meredakan gejala Mata SePeLe. Produk ini diformulasikan dengan Hydroxypropyl Methylcellulose (HPMC), bahan aktif yang bekerja sebagai pelumas menyerupai air mata alami.
Kandungan tersebut bahkan diajukan oleh International Council of Ophthalmology (ICO) ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai panduan terapi untuk mengatasi gejala mata kering.
INSTO Dry Eyes tersedia dalam kemasan praktis 7,5 ml, mudah dibawa dan digunakan di tengah aktivitas sehari-hari.
Bagi saya, kampanye “Bebas Mata SePeLe” menjadi pengingat penting bahwa kesehatan mata sering kali luput dari perhatian, terutama di lingkungan kerja digital seperti ruang redaksi.
Kesadaran untuk mengenali gejala awal, memilih solusi yang tepat, serta tidak mengabaikan sinyal tubuh adalah langkah sederhana yang berdampak besar.
Mata sepet, perih, dan lelah bukanlah keluhan sepele. Ia adalah pesan tubuh yang perlu didengar. Melalui kampanye “Bebas Mata SePeLe”, masyarakat diajak untuk lebih peka terhadap kesehatan mata dan mengambil tindakan sejak dini.
Di tengah derasnya arus digital, menjaga mata tetap sehat adalah investasi penting untuk produktivitas dan kualitas hidup jangka panjang. (Fys)





