“Urang Rumah”: Cara Adat Minangkabau Memuliakan Istri

“Urang Rumah”: Cara Adat Minangkabau Memuliakan Istri
“Urang Rumah”: Cara Adat Minangkabau Memuliakan Istri – Dok. Foto Create by Google AI

Salingka Media – Dalam masyarakat Minangkabau, bahasa tidak sekadar alat komunikasi, melainkan cermin nilai dan pandangan hidup. Salah satu istilah yang sarat makna adalah sebutan “urang rumah” bagi istri. Sebutan ini bukan panggilan biasa, melainkan penegasan martabat perempuan sebagai pusat kehidupan keluarga dan penjaga marwah adat.

Rumah, dalam pandangan Minangkabau, bukan hanya bangunan fisik. Ia adalah pusat nilai, tempat adat ditanamkan, budi pekerti diwariskan, dan masa depan generasi disemai. Karena itu, istri disebut urang rumah orang yang menghidupkan rumah, menjaga keseimbangannya, dan memastikan nilai-nilai tetap lestari. Pepatah Minangkabau menegaskan hal ini: “Bundo kanduang limpapeh rumah nan gadang.” Perempuan adalah tiang penyangga utama kehidupan.

Baca Juga :  Prosesi Adat "Datang Dianta Pai Balapeh" Warnai Awal Kepemimpinan Bupati dan Wabup Tanah Datar 2025-2030

Makna urang rumah tidak bisa dilepaskan dari sistem matrilineal yang dianut Minangkabau. Dalam sistem ini, garis keturunan, harta pusaka, dan keberlanjutan kaum berada dalam lingkar perempuan. Istri bukan sekadar pendamping, melainkan penjaga kesinambungan adat dan identitas keluarga. Rumah gadang berdiri bukan oleh kekuatan fisik, tetapi oleh kebijaksanaan dan keteguhan perempuan di dalamnya.

Sebutan ini juga mengandung pesan etis bagi laki-laki. Seorang suami dalam adat Minangkabau adalah urang sumando dihormati, tetapi tidak berkuasa mutlak. Kehormatan seorang laki-laki justru diukur dari caranya memuliakan urang rumah-nya. Adat mengajarkan bahwa keteduhan rumah tangga lahir dari budi dan sikap, bukan dari kuasa dan paksaan.

Di tengah arus modernisasi yang sering menggerus makna, istilah urang rumah tetap relevan sebagai pengingat bahwa penghormatan terhadap perempuan telah lama hidup dalam kearifan lokal Minangkabau. Ia bukan konsep baru, melainkan warisan nilai yang telah teruji oleh waktu.

Baca Juga :  Hercules Tenggelamkan Kapal Tanker

Selama sebutan urang rumah masih dipahami maknanya, selama itu pula adat Minangkabau tetap bernyawa—menjaga keseimbangan antara tradisi, martabat, dan kemanusiaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *