
Agam, Sumbar, Salingka Media – Warga Jorong Toboh, Nagari Malalak Timur, Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam, menemukan mayat balita korban galodo di sebuah selokan pada Minggu pagi, 18 Januari 2026. Penemuan itu terjadi sekitar pukul 10.21 WIB saat warga melakukan gotong royong membersihkan endapan lumpur sisa banjir.
Warga awalnya melihat benda mencurigakan di aliran air kecil yang tertutup lumpur dan sampah. Saat mendekat dan memastikan, warga langsung menyadari benda tersebut merupakan jasad seorang anak kecil. Suasana gotong royong pun berubah menjadi kepanikan dan duka.
Balita berjenis kelamin laki-laki itu diperkirakan berusia sekitar satu setengah tahun. Kondisi jasad sudah membusuk, menghitam, dan mengeluarkan bau menyengat, menandakan korban telah lama berada di lokasi tersebut. Meski begitu, pakaian yang dikenakan korban masih utuh.
Camat Malalak, Ulya Satar, memastikan penemuan mayat balita korban galodo tersebut murni hasil temuan warga tanpa unsur lain. Ia menyampaikan keterangan itu saat dikonfirmasi pada Minggu siang.
“Iya, benar. Warga menemukan jasad balita saat gotong royong membersihkan selokan,” kata Ulya.
Ulya menjelaskan, ciri fisik dan pakaian korban sesuai dengan laporan keluarga korban banjir bandang atau galodo yang melanda Malalak Timur pada akhir November 2025. Pada peristiwa tersebut, sejumlah warga hanyut dan tidak seluruhnya berhasil ditemukan.
“Korban merupakan salah satu korban galodo. Identitas dan pakaian yang dikenakan sesuai dengan data keluarga,” jelasnya.
Penemuan mayat balita korban galodo ini mengakhiri pencarian panjang keluarga korban. Sejak dinyatakan hilang beberapa bulan lalu, keluarga mengikuti berbagai upaya pencarian yang melibatkan tim gabungan dan masyarakat. Setelah pencarian dihentikan, keluarga memilih menerima keadaan dengan ikhlas.
“Keluarga sudah menerima kenyataan sejak lama. Mereka menyambut penemuan ini dengan hati yang lapang,” ujar Ulya.
Petugas bersama warga segera mengevakuasi jasad balita tersebut dan langsung memakamkannya pada hari yang sama sekitar pukul 11.30 WIB. Prosesi pemakaman berlangsung sederhana dan penuh haru dengan kehadiran keluarga dan masyarakat setempat.
Peristiwa ini kembali mengingatkan dampak besar bencana galodo di Malalak Timur. Meski sebagian besar korban telah ditemukan, bencana tersebut masih menyisakan luka mendalam bagi keluarga yang kehilangan.
Warga berharap pemerintah meningkatkan perhatian terhadap mitigasi bencana di wilayah Malalak yang rawan banjir bandang dan longsor, terutama saat curah hujan tinggi.





