
Salingka Media – Situasi pengungsi bencana Sumatera Utara terus menjadi perhatian setelah BPBD merilis perkembangan terbaru jumlah pengungsi bencana Sumatera Utara yang kini mencapai 45.032 jiwa. Angka ini menggambarkan kondisi terkini penanganan warga terdampak yang masih bertahan di berbagai titik pengungsian sejak rangkaian bencana melanda wilayah tersebut.
Sebagai informasi pembuka bagi pembaca, pemantauan ini menjadi penting karena perpindahan ribuan warga berdampak pada mobilisasi logistik, layanan kesehatan, serta koordinasi antar instansi yang terus berlangsung hingga saat ini. Pemerintah daerah menegaskan bahwa langkah tanggap darurat tetap diprioritaskan untuk memastikan kebutuhan dasar para penyintas terpenuhi.
Dalam laporan yang diperbarui pada Minggu sore, 7 Desember 2025, Pusdalops Sumatera Utara melaporkan bahwa ribuan pengungsi tersebar di sembilan wilayah dari total 18 kabupaten dan kota yang terdampak. Konsentrasi terbesar berada di Tapanuli Tengah, Langkat, Tapanuli Selatan, Sibolga, dan Humbang Hasundutan. Sementara itu, jumlah lebih kecil tercatat di Tapanuli Utara, Medan, Deliserdang, serta Serdang Bedagai.
Sri Wahyuni Pancasilawati selaku Kepala Bidang Penanganan Darurat, Peralatan, dan Logistik BPBD Sumatera Utara menegaskan bahwa data ini merupakan kondisi hingga pukul 17.00 WIB pada Minggu. Ia menyampaikan bahwa proses pembaruan terus dilakukan seiring berjalannya koordinasi dengan berbagai instansi pemerintah. Menurutnya, situasi di lapangan masih sangat dinamis sehingga pendataan dilakukan secara berkala.
Rangkaian bencana yang memicu tingginya jumlah pengungsi bencana Sumatera Utara ini memengaruhi total 18 wilayah, di antaranya Medan, Binjai, Tebingtinggi, Padangsidimpuan, Deliserdang, Langkat, Pakpak Bharat, Nias, Nias Selatan, Asahan, Batubara, Mandailing Natal, serta tiga wilayah Tapanuli lainnya. Setiap daerah memiliki tingkat kerusakan dan dampak berbeda, namun seluruhnya mendapatkan perhatian melalui skema penanganan terpadu.
Memasuki pekan kedua, sejumlah titik pengungsian masih dipenuhi warga yang menunggu perkembangan situasi. Pihak BPBD bersama pemerintah kabupaten dan kota terus menyiapkan upaya pemulihan bertahap, termasuk distribusi bantuan harian, pendampingan kesehatan, dan penilaian lanjutan terhadap kebutuhan jangka menengah.
Sebagai penutup, lonjakan pengungsi bencana Sumatera Utara menjadi pengingat penting tentang perlunya kesiapsiagaan daerah terhadap ancaman bencana yang berulang. Dengan koordinasi yang terus diperkuat, pemerintah berharap proses pemulihan dapat berjalan lebih cepat dan memastikan seluruh warga yang terdampak menerima dukungan yang mereka butuhkan.





