Padang  

DLH Padang Genjot Penanganan 3.327 Ton Sampah Pasca Bencana dalam 9 Hari, Strategi Unik Memulihkan Kota

DLH Padang Genjot Penanganan 3.327 Ton Sampah Pasca Bencana dalam 9 Hari, Strategi Unik Memulihkan Kota
DLH Padang Genjot Penanganan 3.327 Ton Sampah Pasca Bencana dalam 9 Hari, Strategi Unik Memulihkan Kota – Dok. Foto Via dirgantaraonline

Salingka Media – Setelah dihantam oleh hujan ekstrem dan banjir yang meluas, Kota Padang saat ini menghadapi tantangan logistik lingkungan yang luar biasa: menumpuknya sampah pasca bencana dengan total volume mencapai $3.327$ ton. Material kolosal ini berasal tidak hanya dari penundaan layanan lima hari sebelumnya, tetapi juga dari puing-puing rumah tangga yang terdampak, ditambah dengan kayu-kayu gelondongan berukuran besar yang terseret dari hulu sungai. Menanggapi situasi genting ini, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Padang langsung melancarkan mobilisasi penuh sumber daya. Mereka menetapkan tenggat waktu yang sangat ambisius, yaitu menuntaskan seluruh penanganan sampah pasca bencana ini dalam waktu sembilan hari kerja.

Kunci dari kecepatan pemulihan yang diusung oleh DLH Padang adalah penanganan awal material langsung di titik-titik lokasi terdampak. Sejak hari pertama proses pembersihan dimulai, petugas Lapangan Pengawas Sampah (LPS) berkolaborasi dengan jaringan Bank Sampah setempat untuk melaksanakan pemilahan material di tempat.

Pendekatan ini berfokus pada penerapan prinsip 3R ( reduce, reuse, recycle ) secara agresif. Dengan memisahkan material yang masih memiliki nilai guna atau dapat didaur ulang, DLH berhasil meminimalisasi volume total sampah yang harus diangkut ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Air Dingin. Strategi ini memastikan armada pengangkut dapat beroperasi lebih efisien, memfokuskan upaya pada pengangkutan material yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan kembali.

Baca Juga :  Giatkan Kompetisi, Gubernur Sumbar Apresiasi Latihan Gabungan Tarung Drajat dan HUT Kodrat Sumbar ke-29

“Kami berupaya keras agar TPA tidak sampai kewalahan. Banyak material yang kami temukan di lapangan, ternyata masih memiliki nilai guna, dan ini harus ditangani langsung di tempat, tidak perlu diangkut ke TPA,” jelas Kepala DLH Kota Padang, Fadelan Fitra Masta, pada Minggu $(30/11/2025)$. Sistem pemilahan di lokasi ini menjadi langkah krusial untuk menjaga stabilitas operasional TPA di tengah volume puing yang masif.

Komponen terbesar dari total $3.327$ ton sampah pasca bencana adalah material kayu, dengan estimasi berat mencapai $1.100$ ton. Batang-batang pohon berukuran besar, beberapa di antaranya memiliki panjang hingga beberapa meter, memenuhi kawasan pesisir dan tepian sungai, menjadi pemandangan unik yang dibawa oleh banjir bandang.

Namun, DLH Padang tidak melihat angka ini sebagai beban semata. Mereka justru mengubah masalah logistik ini menjadi peluang. Sebagian besar kayu gelondongan ini tidak memerlukan pengangkutan oleh armada DLH. Sebaliknya, warga pesisir didorong untuk memungut dan memanfaatkan kayu tersebut untuk keperluan rumah tangga, seperti kayu bakar, atau untuk mendukung usaha kecil mereka. Sisa material kayu yang tidak diambil oleh warga diarahkan untuk disalurkan ke PT Semen Padang. Di sana, material kayu ini akan diolah dan dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif untuk keperluan industri.

Baca Juga :  Aksi Heroik Mastilizal Aye Terjang Banjir Padang Demi Selamatkan Warga

“Kami memfasilitasi agar material kayu ini dapat benar-benar bermanfaat. Semakin banyak yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat maupun sektor industri, proses pemulihan kota juga akan berlangsung lebih cepat dan efisien,” tambah Fadelan. Inisiatif ini bukan hanya mengurangi beban pekerjaan DLH, tetapi juga mempromosikan jalur pemanfaatan material sisa bencana yang lebih berkelanjutan dan ekonomis.

Untuk menghadapi skala pekerjaan yang berat ini, DLH Padang mengandalkan dua pilar strategi operasional. Pertama, mereka melakukan mobilisasi armada secara maksimal, termasuk dengan peningkatan frekuensi ritasi harian (jumlah perjalanan pengangkutan) secara signifikan. Kedua, dan tak kalah penting, adalah penerapan sistem pembagian zona kerja yang terstruktur.

Penerapan sistem zona ini bertujuan untuk memastikan setiap kawasan yang terdampak bencana menerima penanganan yang sistematis tanpa adanya tumpang tindih operasional. Setiap zona di bawah kendali seorang koordinator lapangan yang bertugas memantau kecepatan pengangkutan, efektivitas proses pemilahan di lokasi, hingga proses pembersihan lanjutan. Dengan struktur dan pola kerja terukur seperti ini, DLH optimistis bahwa target penuntasan dalam waktu sembilan hari dapat dicapai, meskipun volume material yang harus ditangani sangat besar.

DLH Padang berkomitmen bahwa percepatan proses penanganan ini tidak akan mengorbankan prinsip keberlanjutan lingkungan. Upaya maksimal untuk memanfaatkan semua material sisa bencana—mulai dari kayu industri hingga sampah rumah tangga yang masih memiliki nilai ekonomis—menjadi inti dari strategi pemulihan jangka panjang yang mereka terapkan.

Baca Juga :  Kunjungan Penny Williams: Kota Padang Tingkatkan Hubungan Indonesia-Australia dalam Peringatan 75 Tahun Diplomatik

“Pemulihan kota harus berlangsung cepat dan efektif, tetapi tata kelola lingkungan yang baik harus tetap menjadi prioritas utama. Kota Padang harus pulih, dan ini tidak boleh terjadi dengan meninggalkan jejak baru berupa gunungan sampah di TPA,” pungkas Fadelan.

Dalam sembilan hari ke depan, Kota Padang akan menjadi saksi dari kerja kolosal: armada DLH yang bergerak tiada henti, partisipasi aktif dari warga dalam pemanfaatan material, dan petugas yang berjuang keras untuk menormalkan kembali denyut kehidupan kota. Upaya ini merupakan manifestasi nyata dari ketahanan Kota Padang dalam menghadapi dampak bencana, membuktikan bahwa penanganan lingkungan yang masif dapat dilakukan secara cepat dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *