300 Demonstran Pro-Palestina Ditangkap di Kampus New York

Kami memastikan bahwa dalam kekisruhan ini, mahasiswa yang hendak berbicara atas nama kebenaran dan kedamaian tidak tercampur dengan pihak-pihak yang berupaya mengacaukan situasi

Seorang lelaki mengangkat bendera Palestina di sebuah demonstrasi pro-Palestina di luar kampus Universitas Columbia di New York, AS.
Seorang lelaki mengangkat bendera Palestina di sebuah demonstrasi pro-Palestina di luar kampus Universitas Columbia di New York, AS.

Salingka Media, New York – 300 Demonstran Pro-Palestina Ditangkap di Kampus New York.

Wali Kota New York, Eric Adams, mengungkapkan dramatisnya aksi penangkapan oleh Departemen Kepolisian New York (NYPD) terhadap sekitar 300 demonstran pro-Palestina di Universitas Columbia dan City College of New York.

Momen ini menjadi sorotan tengah gemuruhnya gelombang protes yang membanjiri Amerika Serikat.

Adams menekankan esensi dari tindakan penangkapan ini dengan mengatakan, “Kami memastikan bahwa dalam kekisruhan ini, mahasiswa yang hendak berbicara atas nama kebenaran dan kedamaian tidak tercampur dengan pihak-pihak yang berupaya mengacaukan situasi.”

Protes ini, demikian dia, adalah hasil dari provokasi eksternal, bukan inisiatif para mahasiswa itu sendiri.

Ketegangan semakin memuncak ketika petugas NYPD memasang barikade besi di sekitar Universitas Columbia, tempat para mahasiswa yang menentang operasi militer Israel di Jalur Gaza berdiri teguh.

Rektor Universitas Columbia, Minouche Shafik, turut bersuara dengan meminta kehadiran polisi untuk menjaga ketertiban.

Sementara itu, demonstrasi pro-Palestina di berbagai kampus AS mengecam tidak hanya militer Israel, tetapi juga dukungan finansial dan diplomatis dari Amerika Serikat terhadap operasi militer tersebut.

Operasi militer Israel di Gaza telah menimbulkan tragedi kemanusiaan yang tak terbantahkan, dengan lebih dari 34.000 warga Palestina tewas dan 77.000 lainnya terluka.

Para mahasiswa dengan tegas mendesak universitas-universitas untuk mengutuk tindakan militer Israel, memutuskan investasi dengan perusahaan yang terkait dengan Israel, dan menghentikan program studi di universitas-universitas di negara tersebut.

Tinggalkan Balasan